Oleh: sanjisan | Maret 14, 2008

Shadow Puppet (wayang_kulit) kita…!!!


Pernah lihat orang-orang Indonesia (jawa) nonton pagelaran wayang kulit yang dalangnya adalah seorang bule amerika?
Mungkin seperti itulah yang akan terjadi di masa mendatang.Kenapa?

Mungkin kita berpikir bahwa “DALANG” adalah orang bodoh atau setengah gila yang suka ngomong sendiri, tanya sendiri dijawab sendiri, kuno/ketinggalan jaman, dst, dst….
Memang kalo mikirin hal-hal yang buruk-buruk nggak bakal ada habisnya.

Padahal, menjadi dalang itu sebenarnya sangat sulit. Karena harus mempunyai ingatan yang kuat, melafalkan banyak macam suara sesuai dengan karakter tokoh wayangnya, dlsb.
Misalnya: Werkudara (baca werkudoro), dalam wayang kulit (shadow puppet), satu tokoh ini saja mempunyai banyak jenis gambar. Perbedaan yang nampak jelas adalah posisi kepalanya yang menunduk sedikit demi sedikit. Semakin malam, Werkudara yang dimainkan dalam pagelaran, kepalanya semakin menunduk. Jika dalam pagelaran semalaman, Werkudara yang dimainkan sama terus, berarti yang main itu dalang super BODOH! Ini baru satu contoh.

Ada tokoh unik dalam wayang kulit (jawa), namanya Dasamuka (Dosomuko). Secara harfiah berarti sepuluh muka (ten face). Tokoh ini digambarkan dengan sepuluh wajah dan sepuluh lengan, dan dia mempunyai sepuluh roh/nyawa.
Kalau nggak percaya, coba aja lihat wayangnya di rumah pak dalang, nah… wajah dan tangan dasamuka ada 10, kan?

Janaka (Janoko), yang dalam bahasa Indonesia disebut Arjuna, adalah tokoh wayang paling cakep yang suka main panah-panahan. Ada juga Kumbakarna (Kumbokarno), seorang raja raksasa, orang Amerika menyebutnya “demon king”.

Menonton pagelaran wayang kulit (shadow puppet), yang benar adalah dari belakang layar, jadi kita hanya melihat bayangan-bayangannya. Tapi kita tetap bisa membeda-bedakan bayangan itu, karena….

Arjuna di balik layar

gambar wayang itu tidak nge-block (hitam-hitam aja), garis-garis atau titik-titik kecil pada mahkota saja bisa kelihatan jelas (bayangannya). Berarti… membuat wayang itu susah juga ya, harus melubangi, mengukir, mewarnai, dst, dst, capai deh…

Dan memang… orang-orang luar negeri lebih bisa menghargainya daripada kita.

* Original Story by Sanji-san (cedonulfi_at_yahoo_dot_com)


Responses

  1. Benarkah orang-orang luar negeri lebih bisa menghargai ( wayang kulit) daripada kita? Apakah statemen itu hanya karena cerita wayang itu berasal dari luar negeri? Apa karena saya tidak tahu mana bagian belakang dan bagian depan dari sebuah pagelaran wayang? Yang benar ditonton dari belakang Dalang atau di dari depan Dalang? Jadi untuk menonton saja bisa salah? Jarene Dalang itu selalu di belakang layar? Satu hal, tentang Werkudara .. aku lagi ngerti saiki nek si Brataseno, ya si Bimo, ya si Seno, sing gagah prakoso iku makin malam (makin dewasa) makin menunduk, dan ndeprok nek ketemu roh-nya sendiri (Dewo Ruci) … Nyuwun pirso, Sanji San puniko piyantun Jepang to? Nuwun gunging pangaksami bilih kawulo lepat. Arigato Gosaimaz!

    • minta maaf menganggu… kebetulan pertunjukan wayang kulit hanya dipertontonkan kepada orang asing manalakala di malaysia jugak persepai yang sama berlaku. Pendedahannya hanya di kampung-kampung. Mengikut arus zaman dan rentak retro yang semakin cepat dan deras, kegawatan tok dalang hanya untuk syok sendiri saja……Generasi baru hanya dibuah dengan rentak yang rancak dan menghayalkan…….Kebendaan/Materilistik menjadi iguan dan impian hingga yang lama dilupakan

  2. good post

  3. Waaa.. masa, sih orang bule yang malah jadi dalang. padahal itu kan budaya kita sendiri. karena mungkin orang-orang sudah pada modern, padahal ia harus tetap ingat bahwa ia juga harus melestarikan budaya negara sendiri. aku juga lagi belajar jadi dalang cilik. namaku fadel, umur 9 tahun. kunjungi websiteku di www. fadeldjogdja.blogspot.com. wayang itu memang benar harus dilihat bayangannya. karena mungkin wayang itu berasal dari kata
    ” bhayang ” yang mungkin artinya bayangan.

  4. Mbok yo jo meremehkan negarane dewe,bangsa kt menghargai seni dgn cara yg berbeda2,sperti kita,tdk hrs dtunjukan dgn hanya bicara,untuk menghargai seni,karna seni adanya dhati


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: